Yee, waktunya mudik! Kangen yg
tertahan di dada terasa uda mau jadi nuklir buat diriku saja. Rasanya udah
nggak tertahan menghirup udara segar di Bandungan. Semua yg ada di Bandungan
terasa menjadi satu paket komplit obat kangen ini, dari udaranya, hawa dinginnya,
keluarga dan teman yg masih berdomilisi disana selalu membuatku kangen.
Eiits, bukan hanya itu saja,
gemblong gorengnya yg masih seharga 500 rupiah, kelengkengnya yg manis, Mie
Ayam Bakso Pak Yuli nya yg ramai (heheh, promosi! Yg punya ortu sendiri) dan
bubur opak nya. Favorit saya bubur opak dengan mie dan Bongko kacang tolo
dikasih sambal kacangnya yg pedas dan gurih selalu menjadi menu sarapan andalan
saya. Dengan harga 5000 sudah kenyang minta ampun.
Asiknya liburan di kampung sering
saya posting ke dunia maya, termasuk foto kulinernya ke Instagram saya (ikuti
saya di Instagram – klik link ini http://instagram.com/sigitafri#
). Dan yg paling membuat saya kaget ketika saya memposting foto makanan bubur
opak, ada seorang teman saya dari Solo tanya “makanan apa itu?”. Heran saja,
apa di solo tidak ada? Sedikit penasaran saya tanya mbah Google dengan kata
kunci bubur opak, akhirnya nemu 2 situs yg saya cari yaitu http://bandungan-indah.blogspot.com/2009/09/bubur-opak-la-bandungan.html
dan http://bandunganbanget.wordpress.com/enak-banget/
. Yaa, dari kedua link tersebut saya baru tahu, bubur opak itu khasnya
Bandungan, bahkan sedikit kepo saya tanya temen temen yg berdomilisi di
kecamatan Bandungan. Dari survei sedikit heran malah, bubur opak hanya berada
di area kelurahan Bandungan. Sedikit bangga memang, ternyata makanan dari kecil
saya adalah khasnya daerah saya.
Bagi temen temen yg belum tahu
apa itu bubur opak, bubur opak tidak berbeda dengan bubur lainnya. Masih menggunakan
beras sebagai bahan bakunya. Namun yg membedakan dengan lainnya, adalah cara
penyajiannya. Biasanya kita bubur disajikan di piring atau wadah lainnya, namun
di Bandungan piring ini diganti mengunakan opak itu tadi. Opak sendiri adalah
sejenis krupuk yg berbahan dasar tepung terigu dan ketela berbentuk bulat
dengan diameter tidak sampai 30 cm. Karena itu opak bisa dimakan juga setelah
bubur diatasanya habis. Opak yg tadinya keras setelah digunakan sebagai alas
bubur menjadi lunak akhirnya. Inilah yg paling saya tunggu, saya paling suka
makan opak yg sudah lunak ini. Opak di Bandungan berbeda dengan opak di sunda
dilihat dari bahan dasarnya. Opak sunda terbuat dari beras ketan.
Bagi saya, bubur opak tidaklah
lengkap kalau belum ada mie, sambal kacang dan bongko. Namun ada masih bisa
memilih alternatif lainya selain tambahan diatas yaitu pecel, sayur lodeh atau
hanya diberi tambahan bakwan goreng atau tempe. Bagi yang belum tahu bongko,
ini ada resep di link ini http://warungitus.wordpress.com/2013/04/02/bongko-kacang-tolo/
. Ada beberapa jenis bongko, namun yg digunakan untuk bubur opak ini adalah
bongko kacang tolo.
Itulah bubur opak plus bongko
makanan luar biasa, favorit saya. Mampir ke Bandungan cobalah mencicipinya.







0 komentar:
Posting Komentar
Monggo di komentari, Kasih kripik pedasnya juga nggak apa apa...