Senin, 28 Juli 2014

PETRUK SANG REFORMIS

Hadiprayitno (2009:58) menyatakan bahwa ada suluk pedalangan gaya Yogyakarta yg secara khusus mengkisahkan bentuk Petruk, bunyinya sebagai berikut :
Ong, Petruk Kanthong Bolong
Tanpa kucir nangging jejengngotan
Weteng mlenthus
Wudele bodong
Awak dawa, dawa tangane
Dalam suluk tersebut, dinyatakan bahwa Petruk memiliki bentuk fisik yg unik, dalam kehidupan orang jawa, bentuk ini memiliki falsafah tersendiri. Dengan keunikan dalam diri Petruk inilah, Petruk mampu mengembangkan diri menjadi raja. Kemampuan ini didapat Petruk karena dia memiliki kekuatan yg berasal dari keyakinan akan diri sendiri selain dari jimat kalimasada.

Dalam lakon Petruk Dadi Ratu, banyak orang yg menganggap lakon ini hanya untuk geguyonan, banyak orang salah mengartikan pesan dari lakon ini. Yaa, jika kita melihat secara tersurat dalam lakon ini, maka kita hanya dapat mengambil kesimpulan bahwa Jongos (Pembantu) jadi raja adalah impian. Banyak orang berpikir lakon ini adalah cerita mimpi, mimpi seorang rakyat kecil jd pemimpin. Lakon hiburan untuk rakyat. Namun lihatlah secara tersirat apa yg ada dalam lakon ini. Ada 2 hal yg dapat kita ambil dari makna tersirat ini, yaitu tentang hubungan seorang kawula (hamba) dgn tuannya. Dan yg kedua tentang ketidakbecusan pemimpin dlm memimpin sehingga rakyat kecil pun menggugat dgn menyatakan diri (baca:Petruk) menjadi raja.
Makna Petruk sebagai seorang reformis memang sangat cocok melekat pada dirinya jika kita melihat pada lakon Petruk Dadi Ratu ini. Petruk sudah hafal betul dgn model paham kekuasaan yg terjadi pada negaranya. Kalau mau, dia bisa saja menghajar habis mereka yg bertanggung jawab atas kesemrawutan yg terjadi dalam pemerintahan. Perlu diketahui, Petruk ini memiliki kekuatan yg cukup kuat untuk membunuh para kesatria bahkan para dewa. Tindakan Petruk turun menjadi raja memuat sebuah ajaran yaitu (1) status social itu bersifat sementara (2) jabatan merupakan pakaian, suatu saat harus dilepaskan.
Petruk bergelar Prabu Kanthong Bolong. Menurut Carita(2000:92), Kanthong yg berarti wadah, dan bolong yg berarti terus masuk. Kanthong bolong berarti  Petruk selalu dapat menerima ilmu yg baik. Ulah dari Prabu Kanthong Bolong tentu saja membuat resah para raja-raja, karena rakyat kecil dianggap terlalu berani. Kahyangan Junggring Saloka pun dibuat gelisah oleh Petruk, kawah Candradimuka mendidih perlambang akan kudeta yg membahayakan kekuasaan para dewa. Maka dibuatlah scenario pembunuhan Petruk, namun apa daya mereka. Bukannya Petruk yg mati, tapi Prabu Kanthong Bolong ini malah mengamuk. Kresna dan Baladewa dibuatnya babak belur. Bathara Guru, rajanya para dewa dibuatnya lari terbirit-birit. Ngamuknya Petruk ini sebagai pengingat perilaku yg menyimpang para pemimpin. Rakyat kecil yg marah. Masih ingat di benak kita Reformasi 98, kemarahan rakyat tak bisa lagi dibendung, suara suara reformasi bermunculan di penjuru negeri, menghentak meraung hingga bergulirnya reformasi di negeri ini. Kejadian ini dilambangkan sebagai Petruk yg marah, Petruk yg ngamuk.
Petruk sudah saatnya memperjuangkan martabat bangsa yg lama tergadaikan. Dia menjadi dukun bangsa, pembawa obat bagi rusaknya moral bangsa. Akhrinya Petruk adalah sang reformis sejati. Jati dirinya sebagai rakyat kecil tidak membawanya pada ketakutan untuk menggugat, malah menjadikan keyakinan diri berjuang membenahi birokrasi negeri ini.
Kangennya kita pada sosok Petruk, menjadikan koalisi rakyat jauh lebih kuat, membawanya pada kemenangan pemilu tahun 2014 ini. Sosok Petruk mungkin tidak akan kita temui, namun semangat Prabu Kanthong Bolong ini telah menjelma pada rakyat kita. Saatnya rakyat bertindak untuk nasibnya sendiri, untuk negeri dimana cita cita kemerdekaan sejati sudah mengukir di hati rakyat. Sekian dan terimakasih!
Diolah dari buku :
Endraswara, Suwardi. 2014. PETRUK DADI RATU. Yogyakarta: Penerbit Narasi

0 komentar:

Posting Komentar

Monggo di komentari, Kasih kripik pedasnya juga nggak apa apa...