Hadiprayitno (2009:58) menyatakan bahwa ada suluk pedalangan
gaya Yogyakarta yg secara khusus mengkisahkan bentuk Petruk, bunyinya sebagai
berikut :
Ong, Petruk Kanthong Bolong
Tanpa kucir nangging jejengngotan
Weteng mlenthus
Wudele bodong
Awak dawa, dawa tangane
Dalam suluk tersebut, dinyatakan bahwa Petruk memiliki
bentuk fisik yg unik, dalam kehidupan orang jawa, bentuk ini memiliki falsafah
tersendiri. Dengan keunikan dalam diri Petruk inilah, Petruk mampu
mengembangkan diri menjadi raja. Kemampuan ini didapat Petruk karena dia
memiliki kekuatan yg berasal dari keyakinan akan diri sendiri selain dari jimat
kalimasada.
Dalam lakon Petruk Dadi Ratu, banyak orang yg menganggap
lakon ini hanya untuk geguyonan, banyak orang salah mengartikan pesan dari
lakon ini. Yaa, jika kita melihat secara tersurat dalam lakon ini, maka kita
hanya dapat mengambil kesimpulan bahwa Jongos (Pembantu) jadi raja adalah
impian. Banyak orang berpikir lakon ini adalah cerita mimpi, mimpi seorang
rakyat kecil jd pemimpin. Lakon hiburan untuk rakyat. Namun lihatlah secara
tersirat apa yg ada dalam lakon ini. Ada 2 hal yg dapat kita ambil dari makna
tersirat ini, yaitu tentang hubungan seorang kawula (hamba) dgn tuannya. Dan yg
kedua tentang ketidakbecusan pemimpin dlm memimpin sehingga rakyat kecil pun
menggugat dgn menyatakan diri (baca:Petruk) menjadi raja.
Makna Petruk sebagai seorang reformis memang sangat cocok
melekat pada dirinya jika kita melihat pada lakon Petruk Dadi Ratu ini. Petruk
sudah hafal betul dgn model paham kekuasaan yg terjadi pada negaranya. Kalau
mau, dia bisa saja menghajar habis mereka yg bertanggung jawab atas
kesemrawutan yg terjadi dalam pemerintahan. Perlu diketahui, Petruk ini
memiliki kekuatan yg cukup kuat untuk membunuh para kesatria bahkan para dewa.
Tindakan Petruk turun menjadi raja memuat sebuah ajaran yaitu (1) status social
itu bersifat sementara (2) jabatan merupakan pakaian, suatu saat harus
dilepaskan.
Petruk bergelar Prabu Kanthong Bolong. Menurut
Carita(2000:92), Kanthong yg berarti wadah, dan bolong yg berarti terus masuk. Kanthong
bolong berarti Petruk selalu dapat
menerima ilmu yg baik. Ulah dari Prabu Kanthong Bolong tentu saja membuat resah
para raja-raja, karena rakyat kecil dianggap terlalu berani. Kahyangan Junggring
Saloka pun dibuat gelisah oleh Petruk, kawah Candradimuka mendidih perlambang
akan kudeta yg membahayakan kekuasaan para dewa. Maka dibuatlah scenario pembunuhan
Petruk, namun apa daya mereka. Bukannya Petruk yg mati, tapi Prabu Kanthong
Bolong ini malah mengamuk. Kresna dan Baladewa dibuatnya babak belur. Bathara Guru,
rajanya para dewa dibuatnya lari terbirit-birit. Ngamuknya Petruk ini sebagai
pengingat perilaku yg menyimpang para pemimpin. Rakyat kecil yg marah. Masih ingat
di benak kita Reformasi 98, kemarahan rakyat tak bisa lagi dibendung, suara
suara reformasi bermunculan di penjuru negeri, menghentak meraung hingga
bergulirnya reformasi di negeri ini. Kejadian ini dilambangkan sebagai Petruk
yg marah, Petruk yg ngamuk.
Petruk sudah saatnya memperjuangkan martabat bangsa yg lama
tergadaikan. Dia menjadi dukun bangsa, pembawa obat bagi rusaknya moral bangsa.
Akhrinya Petruk adalah sang reformis sejati. Jati dirinya sebagai rakyat kecil
tidak membawanya pada ketakutan untuk menggugat, malah menjadikan keyakinan
diri berjuang membenahi birokrasi negeri ini.
Kangennya kita pada sosok Petruk, menjadikan koalisi rakyat
jauh lebih kuat, membawanya pada kemenangan pemilu tahun 2014 ini. Sosok Petruk
mungkin tidak akan kita temui, namun semangat Prabu Kanthong Bolong ini telah
menjelma pada rakyat kita. Saatnya rakyat bertindak untuk nasibnya sendiri,
untuk negeri dimana cita cita kemerdekaan sejati sudah mengukir di hati rakyat.
Sekian dan terimakasih!
Diolah dari buku :
Endraswara, Suwardi. 2014. PETRUK DADI RATU. Yogyakarta: Penerbit
Narasi







0 komentar:
Posting Komentar
Monggo di komentari, Kasih kripik pedasnya juga nggak apa apa...