Minggu, 27 Desember 2015

Buku Favorit 2015

Seorang teman bertanya ke saya, "apa buku favorit mu sepanjang tahun 2015 ini? ". Otak saya berputar kencang waktu itu seperti hardisk yg dipaksa kerja ekstra untuk menjawab pertanyaan spontan itu. Dan saya tak menemukan apa apa. Sepulang nya, saya tertarik untuk membuat list buku favorit itu, list nya tercapai, 10 buku yg masuk dalam daftar nya. Namun saya masih kurang greget ngliat daftar buku itu. Selang berapa hari, entah dapat wansit dari mana, saya kepikiran untuk mengkategorikan buku itu, dan mempersempitnya. Cukup bertapa 10 menit, saya memilih 4 kategori. Pemilihan ini bukan sembarangan, tentu didasarkan pada buku yg saya punyai dan baca sepanjang tahun ini. Udah, nggak usah berpanjang lebar ataupun cari keliling lingkaran, inilah 4 buku terfavorit itu berdasarkan kategori yg saya sukai :

1. Jalan Bandungan
Di novel fiksi saya memilih Jalan Bandungan, sebagai favorit saya. Tak dipungkiri bagi saya, saya udah membaca novel ini 2 kali dibandingkan novel lainya yang saya baca cuma sekali. Dan saya tak bosan untuk mengulanginya

2. Melihat Api Bekerja
Kategori kumpulan puisi, saya memilih Melihat Api Bekerja karya mas Aan. Alasannya nya sederhana, saya tak pernah merasa puas membaca buku ini, selalu ada kata lagi dan lagi untuk membaca puisi nya. Sebelumnya, buku ini harus berduel dengan buku "Hujan Bulan Juni" di otak saya. Tapi saya sadar diri, "Hujan Bulan Juni" sudah saya baca sejak tahun 2014, meskipun terkadang saya masih suka membacanya di tahun ini. Tapi yaa, harus ada satu yg mewakili kategori ini, dan hati saya memilih Melihat Api Bekerja, tanpa menyampingkan Hujan Bulan Juni di hati saya.

3. Tembak Bung Karno, Rugi 30 Sen
Ini buku sejarah yg menarik, mbak Walentina membawakannya dengan amat objektif. Dalam sejarah, selalu ada pandangan atau perspektif yang berbeda, apalagi bila sejarah itu pernah ditutupi, mbak Walentina dengan apik membawa kan semua kemungkinan itu, dan penilaian akhir nya dari sang pembaca sendiri.

4. Hidup Sederhana
Di kategori pengembangan diri, saya memilih Hidup Sederhana karya Desi Anwar ini sebagai favorit saya tahun ini. Saya sangat terinspirasi bagaimana setiap renungan teh Desi ini menjalani hidup.

Jadi itulah 4 buku favorit saya mewakili 4 kategori koleksi buku saya. Pertanyaan selanjutnya, apa buku favorit mu sepanjang tahun 2015 ini?


Kamis, 26 November 2015

Trilogi Soekram, review novel


Ini adalah novel yang sebelumnya diterbitkan dalam 3 buku terpisah, yaitu Pengarang Telah Mati, Pengarang Belum Mati, dan Pengarang Tak Pernah Mati. Masih dengan gaya khas dan sontoloyo nya Pak Sapardi Djoko Darmono ini, pembaca diajak untuk berada pada hubungan yg khas antara penulis dan tokoh rekaannya. Soekram tokoh fiksi sebuah cerita, keluar dari cerita dan mencoba menggugat pengarang nya. Protesnya, kenapa tak selesai menulis, mengapa ia tak sendiri yang menentukan cerita nya, kenapa percintaan nya disusun dengan rumit?
Ini termasuk buku yang lama untuk saya selesaikan. Bukan waktu untuk membacanya yang menjadikan nya lama untuk diselesaikan. Saya sering kembali ke awal, untuk memahami ide cerita pak Sapardi di buku ini. Kebingungan saya akan Soekram, karakter yang ada padanya amat sulit ditebak. Setidaknya, saya menemukan satu karakter pada diri Soekram, dia adalah seorang pemberontak. Diluar dugaan, ketika saya mencapai di bab 2 buku trilogi ini, dengan modal penjelasan bab 1 mungkin ada di bab 2. Saya jadi ingat, pak Pardi pernah bilang "saya menulis karena saya ingin menulis, tidak ada maksud lain". Perkataan beliau menyadarkan saya, yaa "saya membaca, karena saya ingin membaca, itu dasar saya". Dan mulailah saya membaca tanpa perlu bertanya tanya, saya membaca tanpa perlu tahu mau dibawa kemana, saya membaca tanpa perlu mengerti pesan penulis nya. Dan tralala, saya akhirnya menyelesaikan buku ini, dengan kesimpulan yaa, saya tahu Pak Pardi menulis bukan untuk menyampaikan amanat, dia hanya ingin kita membaca dan bertanya tanya dan akhirnya  kita sendirilah yang akan menyelesaikan ceritanya.
Pada bab 1, "Pengarang Telah Mati". Soekram bertemu dengan teman pengarang yang kabarnya telah mati, dia meminta teman pengarang yang merupakan seorang editor, menerbitkan ceritanya. Teman pengarang (editor) mencari file-file cerita Soekram yang belum selesai ditulis itu. Pada bab ini, soekram diceritakan sebagai seorang dosen yang baru saja pulang dari luar negeri. Kisah cinta nya yang membingungkan antara Ida, minuh (istrinya) dan rosa.
Cerita selanjutnya pada bab "Pengarang Belum Mati", si Editor bertemu dengan pengarang aslinya yang ternyata belum mati. Ia menggugat cerita yang sudah diterbitkan tidak sesuai dengan apa yang ia tulis. Pengarang memberikan naskah aslinya pada si Editor untuk diterbitkan lagi. Di naskah tersebut Soekram ditempatkan sebagai mahasiswa di tengah hiruk pikuk politik tahun 60an.
Bab ketiga sekaligus terakhir, "Pengarang Tak Pernah Mati", Soekram tokoh rekaan datang pada si Editor, ia tidak mau lagi jadi tokoh yang terus terusan dipermainkan oleh pengarang. Dia bersikeras untuk menulis cerita nya sendiri. Dia menempatkan diri menjadi Soekram yg datang dari Jawa ke Padang untuk mencari kaum Proletar yang dipimpin oleh Datuk Meringgih. Disini Soekram benar benar merubah cerita Siti Nurbaya. Yang akhirnya mempertemukan Soekram dengan pengarang asli Siti Nurbaya, Marah Rusli, yang marah karena Soekram, tanpa seijinnya, memutar balikan cerita yang ia buat itu.
Ada beberapa hal yang membuat saya bingung, entah apa yang dilakukan pak Pardi dalam ketiga cerita ini. Misalny munculnya kalimat kalimat dari pihak lain yang entah siapa sedang berbicara dengan Soekram. “bukit bukit pasir yang bergeser dalam hatinya” dalam cerita Pengarang Telah Mati. Hal serupa juga muncul dalam Pengarang Belum Mati “Jangan Makan Pasir Di Padang Pasir ” atau “Jangan Kunyah Pasir Itu Soekram, Jangan! ”. Ketiga kalimat ini sering muncul di cerita pertama dan kedua.
Tapi yang jelas, saya puas dengan buku ini, bintang 4 dari 5 bintang terbaik, saya alamatkan untuk “TRILOGI SOEKRAM “ ini.


Sabtu, 26 September 2015

Jalan Bandungan sebuah Novel


Ini novel yang menarik bagi saya. Nh. Dini melalui novel ini cukup mampu menyihir saya menyelesaikan novel ini dalam hitungan beberapa hari. Namun, perkenalan pertama saya dengan novel ini justru bukan karena cerita nya, melainkan judulnya "Jalan Bandungan". Bandungan sendiri tak asing bagi saya, disinilah saya tumbuh dan dibesarkan, mungkin karena inilah saya mampu membayangkan cerita nya secara jelas karena daerahnya yang saya kenali.


Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Penerbit Djambatan pada tahun 1989, dan cetakan kedua diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama tahun 2009. Saya memiliki buku yg diterbitkan Gramedia, toh begitu saya menemukan buku ini justru di pasar buku di jalan Pegadaian, kota Medan. Setelah muter muter di seluruh toko buku Gramedia se jabodetabek, nggak nemu. Nggak sengaja berkunjung ke medan mendapat berkahnya sendiri, nemu buku ini.

Cerita "Jalan Bandungan" mengambil tema tentang perempuan. Khususnya perempuan yang ditinggal suaminya karena terlibat. Ya, novel ini membuat kita bersinggungan kembali dengan pemberontakan PKI. Sungguh berat kehidupan Muryati, tokoh utama novel ini. Meskipun dia tidak terlibat, keterlibatan suaminya di PKI membuat dia dijauhi teman, dan keluarga nya sendiri. Mengurus ini itu di birokrasi pun dipersulit. Ditambah ketika dia harus membesarkan ketiga anaknya, si Eko, Widowati, dan Seto sendirian tanpa suaminya. Untunglah dia masih memiliki Ibu yang masih mau menerimanya, dan sahabat sahabat nya yang setia membantu ketika sedang sulit.

Novel ini dibagi menjadi 4 bagian. Bagian pertama merupakan perkenalan, sekaligus gambaran masalah yang akan dihadapi si tokoh utama. Bagian kedua, menceritakan Muryati kecil pada masa Revolusi,  pertemuan nya dengan Widodo, pria yang akan menjadi suaminya nanti sampai pada Muryati yg ditinggal pergi suaminya, sampai akhirnya dia mendapatkan beasiswa ke Belanda. Bagian kedua merupakan bagian terpanjang pada novel ini.

Bagian ketiga, berisi kisah Muryati selama berada di Belanda, pertemuan nya dengan Handoko yang kelak menjadi suami keduanya setelah ia bercerai dengan Widodo yang masih menjadi tahanan di pulau Buru. Perlu diketahui Handoko merupakan adik kandung Widodo.

Bagian keempat sekaligus bagian terakhir merupakan klimaks novel ini. Di bagian ini, menceritakan kehidupan Muryati dengan Handoko, serta masalah yg timbul setelah Widodo keluar dari tahanan. Mulai dari masalah Seto serta ketidakharmonisan rumah tangganya bersama Handoko.

Lalu, apa hubungannya dengan judul "Jalan Bandungan" dengan cerita ini? Jalan Bandungan merupakan saksi bisu keteguhan Muryati mempertahankan rumah tangga nya dengan Handoko dari siasat Widodo. Hembt, seperti sinetron ya? Jangan, salah! Banyak nilai yg bisa kita ambil dari novel ini, tentang cinta, persahabatan, keluarga, dan tentang keteguhan.

Silahkan cari novel ini dan baca, untuk lebih jelasnya.

Quote :
Ah, manusia! Selalu tergiur oleh perkataan seandainya. Seolah-olah dengan perkataan itu kita bisa membentuk dunia baru atau kehidupan lain yang dengan idaman masing-masing. "Jalan Bandungan, hal 11"

Di dunia yang digaulinya, orang menganggap kanker payudara sebagai penyakit yang sudah membiasa. Namun bagiku, penyakit apapun, jika menyentuh orang orang yang kucintai. Tidak lagi menyandang predikat "biasa. (Jalan Bandungan, hal 215)


Rabu, 15 April 2015

Secangkir Rindu


Untuk secangkir rindu, cepat disajikan selagi masih hangat. Biarkan uapnya mengepul, menjulang ke langit ruang, selagi masih nikmat.


Sabtu, 11 April 2015

"Film Filosofi Kopi" sebuah review


"Film Filosofi Kopi" sebuah review


Pertama denger cerpen karangan si Dee ini difilmkan, cukup membuat saya penasaran bakalan gimana cerita ini dibawa ke dunia film. Apalagi film ini disutradarai oleh si pembuat film "Cahaya Dari Timur : Beta Maluku" Angga Sasongko. Dan ada kabar juga si Angga ini sampai riset tentang pembuatan kopi dari mulai ditanam sampai dihindangkan di segelas cangkir.

Dan, akhirnya rasa penasaran itu terjawab juga kemarin malam minggu. Berbekal ngajakin si Florent yang juga pengen nonton nie film. Ditambah lagi dua pasukan dari Siloam si Nisya dan mbak Frida. (Gue sendiri paling cantik! Hahaha). Kita meluncur ke Lippo Karawaci.

Film berdurasi 117 minute, dibawakan dengan dibawakan dengan komedi khas dialog antara si Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto). - Si Nisya ampe ketawa tawa.

Film ini dimulai dengan adegan di suatu pagi yang ceria. Kedai Filosofi Kopi sedang ramai seperti biasa. Seorang pelayan dengan tersenyum memandang review kedai Filosofi Kopi yang ditulis, “…menghidupkan kembali Melawai.”

Lalu tampak  berdiri dengan apron cokelat andalannya, rambut gondrong terikat, dan topi yang selalu ia pakai saat sedang membuat kopi. Ia dengan lihai menceritakan filosofi setiap jenis kopi pada pelanggan. Ini termasuk merayu konsumen perempuan dengan menggunakan filosofi cappucino, keindahan yang mirip kamu.

Sedangkan Jody, sejak awal sudah diplot sebagai karakter yang dinamis. Jika tak bisa dibilang pragmatis dan agak sedikit pelit (Paman Gober, julukan si Jody dari si Ben). Ia, sebagai pemilik Filosofi Kopi, harus pusing dengan hutang yang membengkak yg ditinggalkan oleh papa nya. Sedangkan Ben terus merengek untuk membeli biji kopi terbaik yang berharga mahal.

Pertentangan antara Ben dan Jody sudah ditampilkan sejak awal. Ben muncul sebagai sosok barista yang handal, peduli pada mutu biji kopi, memusuhi wifi, dinamis, flamboyan, tapi angkuh luar biasa kalau bicara soal kopi.

Sedangkan Jody lebih ke tipikal pemilik kedai yang harus memutar otak agar kedai tetap bisa berjalan dan hutang bisa dicicil. Ia, misalkan, ngotot mau memasang jaringan Wifi, meski ditentang oleh Ben. Menurut Jody, Wifi bisa mendatangkan pendapatan dua kali lipat.

Jody juga tak setuju dengan adanya jam istirahat makan siang, karena itu adalah jam ramai konsumen. Jody yang lulusan sekolah luar negeri ini juga berulang kali mengemukakan ide agar Filosofi Kopi buka selama 24 jam. Lagi-lagi, ide ini ditentang Ben yang lebih santai.

Filosofi Kopi sedang dalam masa genting karena belum bayar cicilan 3 bulan. Harga bahan baku sedang tinggi. Sedangkan konsumen banyak yang kabur karena tak ada jaringan Wifi, plus jam buka yang relatif singkat.

Saat itu lah, datang seorang pengusaha menawarkan tantangan pada Ben, buatlah kopi terbaik yg akan dihidangkan untuk seorang investor, kalau berhasil maka 100 juta rupiah akan jadi milik Ben dan Jody. Tantangan ini untuk memuluskan tender yang sedang digarap oleh si pengusaha tersebut.



Jody yang pusing memikirkan hutang, mengiyakan tantangan itu. Ben, masih berpikir. Beberapa hari kemudian, mereka berdua mendatangi si pengusaha tsb, Ben malah menantang balik: kalau Filosofi Kopi berhasil menyajikan kopi terbaik, maka hadiahnya 1 milyar rupiah.

“Kalau gagal?”

“Kami yang akan membayar anda 1 milyar,” kata Ben.

Pengusaha tsb setuju. Jody kelimpungan. Ben meminta Jody pergi ke pelelangan biji kopi dan waktu 2 minggu untuk menyiapkan kopi terbaik.

Maka dengan serius Ben menyiapkan kopi. Ia mengurung diri selama 2 minggu di ruangan, lengkap dengan aneka macam peralatan kopi. Hingga akhirnya ditemukan metode yang menghasilkan kopi terbaik, menurut Ben. Kopi itu dinamakan Ben’s Perfecto.

Semua bergembira dengan Ben’s Perfecto. Dengan segera, kopi ini menjadi buah bibir para pecinta kopi di Jakarta. Gema itu akhirnya sampai ke telinga El Deschamp (Julia Estelle), food blogger sekaligus Q-grader yang punya kualifikasi internasional.


El yang tinggal di Perancis sedang berada di Indonesia untuk menuliskan buku tentang kopi. Ia lantas mampir ke Filosofi Kopi dan mewawancarai Jody. El menanyakan tentang makna perfecto.

“Ya kesempurnaan.”

“Jadi anda berpikir perfecto ini adalah kopi paling enak di seluruh dunia?”

Maka Ben segera menyajikan Ben’s Perfecto. Disambut dengan tatapan dan perkataan dingin dari El: masih ada kopi yang lebih enak dari ini.

Jody terkejut. Ben, apalagi. Ia tak terima kopinya punya pesaing. Apalagi setelah El bercerita bahwa kopi yang lebih enak adalah Kopi Tiwus, kopi dari Ijen. Kopi dari desa dengan penyajian yang sederhana.

Lalu bagaimana akhirnya? Saya menyarankan untuk nonton film ini.

Oh iya, yang sudah baca cerpennya harus tetep nonton nie film. Penambahan beberapa kasus seperti utang kedai filosofi kopi serta masa lalu para tokoh membawa warna baru di film ini. Saya juga suka soundtrackny film ini, dari punya nya Gleen, Maliq & dEssentials, Gilbert Pohan, Sidepony, Dee Lestari sampai SVARNA band.



Dan terakhir,
"Sesempurna apapun kopi yang kamu buat, kopi tetaplah kopi,  yang memiliki sisi pahit yang tidak akan mungkin bisa kamu sembunyikan." (Filosofi Kopi)



Selasa, 10 Februari 2015

Perkara Mengirim Senja


Perkara Mengirim Senja
 Perkara Mengirim Senja, sebuah buku yang sudah terbit dari tahun 2012, namun baru aku mengenalnya di awal tahun 2015. Heuheu, rasanya memang jarang update info buku. Kenalnya buku inipun, terbilang cukup tidak disangka. Dari sebuah celoteh update PM saya di BBM tentang senja di bulan January, seorang sahabat saya yg bernama Agustina Reni dengan kata kata seperti ini "Coba senja bisa dipotong, dimasukin ke amplop, dikirim ke orang yg kita sayang=-d " mengomentari PM ku ini.
 Cukup mengelitik, itulah kesan pertama saya membaca komentarnya. Bagaimana tidak, senja dipotong, masukin ke amplop lalu dikirim, bagaimana bisa?
Dari obrolan itulah, aku diperkenalkan pada sebuah buku kumpulan cerpen "Perkara Mengirim  Senja". Dari judulnya saja, sudah membuat saya tertarik, bagaimana memperkarakan senja yg dikirim? Dari keingintahuan itulah, aku mencari nya di goodreads.com . Review tentang buku ini cukup membuat rasa penasaran saya bangkit, dan ingin segera membacanya. Yah, tapi karna buku ini terbitan tahun 2012, harus cari dimana. Dan ternyata sahabat saya ini @agustinarenis dengan senang hati meminjam kan bukunya. Terimakasih loo, ren!
Singkat cerita, sesudah membaca buku ini. Saya jadi kepikiran buat merekomendasikan buku ini lewat blog ini. Jadi saya ceritakan sedikit cerita dari ke-15 cerpen tersebut. Iya dong, sedikit saja kalau kebayakan bisa dimarahin sama penulisnya. Hahaha! Oh ya, jangan heran bila cerpen di buku ini terinspirasi dari karya Seno Gumira Ajidarma (SGA), karena memang buku ini diterbitkan untuk tribute karyanya beliau.

Senin, 29 Desember 2014

Ter-Untuk Kamu dan Dua Tahun Tanpa Harap

Kenapa aku menjadi serumit ini?
Kebiasaan yang seharusnya membuat ku melupakan mu, malah kini semakin menampakan bagian-bagian yang dulu pernah aku harapkan darimu.

Nyatanya, kamu hanya masa lalu. Yang tak kan kembali ada dalam mimpiku.
 
Dua tahun itu bukan waktu yang singkat, namun juga bukan waktu yang lama. Bertahan pada satu tujuan, satu komitmen memang tak mudah. Namun bagian tersulit justru terjadi ketika tujuan itu nyata hilang. Bukan karena aku tak sanggup mencapainya. Tapi karena aku sadar, aku telah kehilangan landasan bahagia ku. Beberapa bulan ini, aku mencoba mencari pengganti mu! Sadar atau tidak, aku selalu saja memilih mereka yg menyerupai dirimu.
Senjaku dengan kabarmu, pagiku dengan ucap salammu. Lalu dimana aku berada ketika senja dan pagiku, sama sama kau boyong dengan hilangmu.
Engkau memang pernah mencoba membukakan pintumu untukku, hampir aku langkah kaki kedalam nya, keburu kau menahanku.

Senin, 27 Oktober 2014

MANA SUMPAHMU, HAI PEMUDA !

Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Demikian bunyi sumpah yang di kukuhkan oleh para pemuda dalam mempersatukan bangsa dan juga cikal bakal pembentukan negara kesatuan RI di tanggal 28 Oktober 1928 yang sekarang ini dikenal dan diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Gaung sumpah pemuda itu memang mampu menginspirasi gerakan para pejuang bangsa sehingga mereka memiliki tekad dan semangat pantang mundur untuk membela bangsa dan tanah air. Dan kemerdekaan RI yang berhasil diraih pada tanggal 17 Agustus 1945 tentunya tak lepas dari gaung sumpah pemuda ini.
Sebagai pemuda yang hidup di era globalisasi saat ini sudah sepantasnya kita meneruskan cita-cita para pencetus sumpah itu, karena nilai sejarah perjuangan tak bisa dilepaskan dari peran serta pemuda. Ingatlah pasti dengan kejadian 10 November di Surabaya, gerakan angkatan 60, gerakan reformasi, dan gerakan lainya yang memang semuanya diprakasai oleh para pemuda yang tak kenal lelah memperbaiki segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia. Gerakan pemuda yang dapat dikatakan solid selama sejarah pasca kemerdekaan Indonesia baru dua kali. Yang pertama adalah pada tahun 1966, dimana para pemuda secara serentak dan serempak, diantaranya dengan menggunakan bendera KAMI dan KAPPI, membabat habis komunisme-atheisme yang dilakukan oleh PKI. Egoisme kelompok sama sekali tidak tampak. Yang kedua adalah gerakan pemuda pada tahun 1998 saat menumbangkan rezim Orde Baru.
Alasan umum mengapa gerakan pemuda pada dua momentum di atas solid adalah karena faktor mereka mempunyai persepsi yang sama dalam hal pendefinisian "musuh". Pada tahun 1966 mereka sepaham dan sepakat bahwa musuh pada saat itu adalah komunisme-atheisme. Bagi mereka, komunisme dan atheisme adalah bentuk pengkhianatan terhadap konsensus bersama tentang landasan bernegara yang dibangun atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Sedangkan pada tahun 1998, mereka juga sepaham bahwa musuh yang mereka hadapi adalah rezim otoriter yang menghambat dan membelenggu pertumbuhan nilai-nilai demokrasi di republik ini.
Sebenarnya, diakui atau tidak, tahu ataupun tak tahu pada hari ini pemuda mempunyai musuh bersama, yaitu soal kebodohan, kemiskinan, penindasan, korupsi, kolusi, nepotisme, dan lain sebagainya. Namun demikian, mengapa hal-hal yang menjadi musuh bersama tadi belum mampu mengetuk hati para pemuda kembali merapatkan barisan untuk bersatu?
Peringatan Sumpah Pemuda barangkali bisa dijadikan momentum untuk melakukan sumpah untuk bangsa dan negara Indonesia. Mencermati kondisi bangsa yang semakin lama semakin memperhatikan saat ini kita sebagai pemuda Indonesia, dan utamanya sebagai seorang pemuda kolese, perlu bersumpah untuk memiliki kesadaran yang tinggi untuk penyelamatan negara. Apa peran kita sebagai anak SMK KOLESE MIKAEL dalam membangun bangsa dan tanah air tercinta ini. Apa sajakah bentuk tindakan untuk menyelamatkan negri tercinta ini. Bagaimana mengembalikan predikat sebagai bangsa yang baik yang tidak korup di mata dunia internasional, walaupun sudah terlambat tetapi seyogyanya sebagai pemuda bangsa kita harus bersikeras melawan korupsi yang sudah bersemayam dalam jiwa, lakukan dengan sungguh-sungguh tidak hanya sekedar wacana maupun ucapan slogan saja, melainkan harus tumbuh sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan, dan dilakasanakan dengan semangat leluhur kita.
Saat ini perkembangan zaman sungguh luar biasa apabila tidak didukung dengan adanya moral, mental dan ikhtiar serta doa, kehidupan kita akan terbelenggu dengan kehidupan hedonis atau materialistis. Akan dibawa kemanakah nantinya para pemuda Indonesia apabila sudah tak mampu lagi menepis godaan duniawi, sudah tidak mampu lagi menghargai vitalitas hidup apalagi memiliki rasa nasionalisme lagi. Mennurunya moral dan etika pemuda, akan semakin memperlemahkan semangat yang telah diwariskan para leluhur bangsa. Sikap kita perlu melihat aspek aspek tertinggi semangat persatuan dan kesatauan, yang guna dalam melihat moral dan etika bangsa yang tengah dibutuhkan dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Sikap nasionalisme pada era 1928 dan 1945, yang mengarahkan pada perlawanan penjajahan, kini nasionalisme diposisikan secara proporsional dalam menyikapi kepentingan pasar yang diusung kepentingan global, dan nasionalisme yang diusung untuk kepentingan negara.
Banyak sebab yang menjadi pemicu lunturnya semangat kebangsaan, semangat nasionalisme, yang merupakan warisan para pendahulu Republik ini. Salah satunya adalah kejenuhan para pemuda dalam memandang wacana kebangsaan yang dikumandangkan elite polotik kita. Mereka melihat tidak adanya figur teladan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi perbaikan keadaan bangsa.Selain itu, sebab lainnya adalah tidak adanya kepercayaan dari golongan tua kepada golongan muda untuk mengadakan transfer ilmu, pengalaman dan kewenangan. Banyak kaum muda yang merasa bahwa kemampuan mereka dalam suatu bidang kurang bisa ditampilkan secara maksimal oleh karena tidak adanya kesempatan untuk menduduki posisi yang penting dalam menentukan kebijakan di negeri ini. Sebagian besar elit politik kita masih memegang paradigma lama yang kurang menghargai profesionalisme dan lebih mementingkan koneksi.
Pemuda perlu memahami peran serta sebagai generasi muda penerus bangsa ini. Kebanyakan pemuda tak memahami perannya sebagai generasi muda maupun sebagai seorang warga Negara Indonesia. Pemuda memiliki idealisme yang murni, dinamis, kreatif, inovatif, dan memiliki energi yang besar bagi perubahan sosial. Idealisme yang dimaksud adalah hal-hal yang secara ideal mesti diperjuangkan oleh para pemuda, bukan untuk kepentingan diri dan kelompoknya, tetapi untuk kepentingan luas demi kemajuan masyarakat, bangsa dan negara. Selain itu, pemuda juga mempunyai masa yang cukup besar di Negara Indonesia, golongan muda memiliki jumlah amat besar daripada golongan tua (data Depdiknas). Ini membuat posisi pemuda strategis dan istimewa. Sebagai pelaku-pelaku pembangunan maupun sebagai generasi penerus yang akan berkiprah di masa depan.
Karenanya bisa dipahami mengapa pemuda berpeluang menempati posisi penting dan strategis, sebagai pelaku-pelaku pembangunan maupun sebagai generasi penerus untuk berkiprah di masa depan.
Karena, pemuda memiliki kelebihan yang secara substansial terkait dengan idealismenya yang masih murni, dan sepanjang sejarahnya terbukti telah memiliki posisi dan peran yang strategis dalam menetukan arah sejarah bangsa. Dalam bidang politik, pemuda telah menujukkan sumbanganya turut mendorong proses demokratisasi bangsa. Tugas berat kini adalah mendorong terwujudnya agenda-agenda reformasi dan demokratisasi bangsa. Maka, Pemuda harus berani melakukan otokritik, sekaligus membenahi diri, meningkatkan kualitas sumberdaya manusianya, dan siap berkiprah di tengah-tengah masyarakat, mewarnai berbagai kehidupan bangsa. Bangsa ini membutuhkan peran dan sumbangsih kalangan pemuda secara nyata, dan sesungguhnya tugas dan peran pemuda tidaklah ringan. Pemuda Indonesia diharapkan mampu mengambil setiap peluang yang ada dan memanfaatkanya secara baik, demi kemajuan bangsa. Masa depan bangsa ini terletak di tangan pemuda.
Tidak, hanya sekedar wacana, peran serta partisipasi pemuda dalam pembangunan harus nyata, dan mampu dibuktikan. Karena berbagai potensi, bakat, kemampuan, dan keterampilan, dengan semangat dan idealisme yang kental dari para pemuda dinilai akan memberikan warna yang khas bagi pertumbuhan dan kemajuan bangsa.
Tentulah, tidak semua pemuda kehilangan perannya, atau melupakan perannya begitu saja. Masih banyak yang cinta pada tanah airnya, masih ada yang siap untuk jadi pembela Sang Saka Merah Putih.
Ingatlah, hai pemuda. Inti dari peran kita sebagai pemuda ialah untuk memperlangsungkan kehidupan berbangsa dan bernegara di masa depan. Melawan musuh musuh bangsa, yaitu soal kebodohan, kemiskinan, penindasan, korupsi, kolusi, nepotisme, dan lain sebagainya.
Letakkan supremasi hukum diatas segalanya karena apabila hukum sudah tidak dihormati lagi sudah tidak di takuti lagi, pastinya makin merajalela saja pelanggaran-pelanggaran yang merugikan masyarakat dan negara. Memahami norma norma yang berlaku dan melaksanakan sebagai suatu kesadaran pribadi.
Bertindak bukan untuk kepentingan diri sendiri tetapi untuk kepentingan masyarakat luas, jangan dibalik mengatasnamakan rakyat tapi untuk kepentingan sendiri. Sudah menjadi kewajiban utama siapapun yang berkuasa senantiasa harus memihak rakyat, karena rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi, dari rakyat dan untuk raykat.
Diprediksikan bahwa Asia akan menjadi Benua yang memiliki pengaruh Besar terhadap Dunia, dan disinilah kesempatan para pemuda untuk dapat menunjukan bahwa bangsa kita merupakan bangsa yang berdaulat, memiliki banyak budaya yang masih alami dan asli(harus di lestarikan), memiliki sumber kekayaan alam(mungkin harus bisa kita kelola sendiri jangan bangsa asing yang mengelola), beragam suku yang bersatu yang menjadikan nilai plus bangsa ini. Dimana diketahui sekarang ini banyak negara-negara maju dari Eropa dan Amerika yang berbondong-bondong bekerjasama dengan Indonesia serta berinvestasi di sini. Jadi kalau bangsa maju beranggapan bahwa negara kita Negara yang hebat mengapa kita biasa masih meremehkan bangsa sendiri? Kenapa kita masih fanatic dengan luar negeri? Marilah kita sebagai generasi penerus bangsa kita mengangkat nama Indonesia, berfikir positif tentang Negara kita, melakukan kewajiban kita dengan baik, dan menjadikan negeri ini negeri yang mendunia.
Mulai saat ini pemuda INDONESIA sudah tidak ada lagi waktu untuk bermalas-malasan apalagi bermanja-manja, belajar dan belajar, TIAP HARI LATIH DIRI-PANTANG MUNDUR TERUS MAJU, jadikan pengalaman kehidupan yang sudah ada untuk kalian jadikan cermin dalam melangkah membangun negri tercinta kita Indonesia. Berikan contoh dan hasil perjuangan kalian untuk generasi yang akan datang nantinya. Selamat berjuang teman...Hidup Pemuda Indonesia!


Senin, 28 Juli 2014

PETRUK SANG REFORMIS

Hadiprayitno (2009:58) menyatakan bahwa ada suluk pedalangan gaya Yogyakarta yg secara khusus mengkisahkan bentuk Petruk, bunyinya sebagai berikut :
Ong, Petruk Kanthong Bolong
Tanpa kucir nangging jejengngotan
Weteng mlenthus
Wudele bodong
Awak dawa, dawa tangane
Dalam suluk tersebut, dinyatakan bahwa Petruk memiliki bentuk fisik yg unik, dalam kehidupan orang jawa, bentuk ini memiliki falsafah tersendiri. Dengan keunikan dalam diri Petruk inilah, Petruk mampu mengembangkan diri menjadi raja. Kemampuan ini didapat Petruk karena dia memiliki kekuatan yg berasal dari keyakinan akan diri sendiri selain dari jimat kalimasada.

Dalam lakon Petruk Dadi Ratu, banyak orang yg menganggap lakon ini hanya untuk geguyonan, banyak orang salah mengartikan pesan dari lakon ini. Yaa, jika kita melihat secara tersurat dalam lakon ini, maka kita hanya dapat mengambil kesimpulan bahwa Jongos (Pembantu) jadi raja adalah impian. Banyak orang berpikir lakon ini adalah cerita mimpi, mimpi seorang rakyat kecil jd pemimpin. Lakon hiburan untuk rakyat. Namun lihatlah secara tersirat apa yg ada dalam lakon ini. Ada 2 hal yg dapat kita ambil dari makna tersirat ini, yaitu tentang hubungan seorang kawula (hamba) dgn tuannya. Dan yg kedua tentang ketidakbecusan pemimpin dlm memimpin sehingga rakyat kecil pun menggugat dgn menyatakan diri (baca:Petruk) menjadi raja.
Makna Petruk sebagai seorang reformis memang sangat cocok melekat pada dirinya jika kita melihat pada lakon Petruk Dadi Ratu ini. Petruk sudah hafal betul dgn model paham kekuasaan yg terjadi pada negaranya. Kalau mau, dia bisa saja menghajar habis mereka yg bertanggung jawab atas kesemrawutan yg terjadi dalam pemerintahan. Perlu diketahui, Petruk ini memiliki kekuatan yg cukup kuat untuk membunuh para kesatria bahkan para dewa. Tindakan Petruk turun menjadi raja memuat sebuah ajaran yaitu (1) status social itu bersifat sementara (2) jabatan merupakan pakaian, suatu saat harus dilepaskan.
Petruk bergelar Prabu Kanthong Bolong. Menurut Carita(2000:92), Kanthong yg berarti wadah, dan bolong yg berarti terus masuk. Kanthong bolong berarti  Petruk selalu dapat menerima ilmu yg baik. Ulah dari Prabu Kanthong Bolong tentu saja membuat resah para raja-raja, karena rakyat kecil dianggap terlalu berani. Kahyangan Junggring Saloka pun dibuat gelisah oleh Petruk, kawah Candradimuka mendidih perlambang akan kudeta yg membahayakan kekuasaan para dewa. Maka dibuatlah scenario pembunuhan Petruk, namun apa daya mereka. Bukannya Petruk yg mati, tapi Prabu Kanthong Bolong ini malah mengamuk. Kresna dan Baladewa dibuatnya babak belur. Bathara Guru, rajanya para dewa dibuatnya lari terbirit-birit. Ngamuknya Petruk ini sebagai pengingat perilaku yg menyimpang para pemimpin. Rakyat kecil yg marah. Masih ingat di benak kita Reformasi 98, kemarahan rakyat tak bisa lagi dibendung, suara suara reformasi bermunculan di penjuru negeri, menghentak meraung hingga bergulirnya reformasi di negeri ini. Kejadian ini dilambangkan sebagai Petruk yg marah, Petruk yg ngamuk.
Petruk sudah saatnya memperjuangkan martabat bangsa yg lama tergadaikan. Dia menjadi dukun bangsa, pembawa obat bagi rusaknya moral bangsa. Akhrinya Petruk adalah sang reformis sejati. Jati dirinya sebagai rakyat kecil tidak membawanya pada ketakutan untuk menggugat, malah menjadikan keyakinan diri berjuang membenahi birokrasi negeri ini.
Kangennya kita pada sosok Petruk, menjadikan koalisi rakyat jauh lebih kuat, membawanya pada kemenangan pemilu tahun 2014 ini. Sosok Petruk mungkin tidak akan kita temui, namun semangat Prabu Kanthong Bolong ini telah menjelma pada rakyat kita. Saatnya rakyat bertindak untuk nasibnya sendiri, untuk negeri dimana cita cita kemerdekaan sejati sudah mengukir di hati rakyat. Sekian dan terimakasih!
Diolah dari buku :
Endraswara, Suwardi. 2014. PETRUK DADI RATU. Yogyakarta: Penerbit Narasi

Kamis, 24 Juli 2014

JOKOWI minum “GODHONG KATES

Pertama saya pribadi ucapkan selamat untuk bapak Joko Widodo dan bapak Jusuf Kalla telah terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2014 – 2019. Saya juga ucapkan selamat untuk seluruh rakyat Indonesia yg telah berpesta demokrasi dengan lancar meski ada gesekan dan gonjang-ganjing dalam proses pemilu ini.
 Judul diatas JOKOWI minum “GODHONG KATES” terinspirasi dari buku “PETRUK DADI RATU” karya Dr. Sunardi Endraswara, 2014. Pada bab pertama buku ini,”lika liku Petruk menjadi ratu”, tertulis pada sub bab “ketika Petruk makan daun kates”. Sangat relavan sekali pada sosok Jokowi. Entah kebetulan atau tidak sosok Jokowi ini memiliki prinsip yg sama pada diri Petruk, tentang makan godhong kates (daun papaya). Petruk sendiri adalah salah satu Punakawan selain Semar, Gareng, dan Bagong, dalam lakon “Petruk Dadi Ratu” sosok Petruk menjadi raja karena berkat dari kekuatan wahyu. Tidak sembarang orang bisa mendapatkan wahyu.
Kembali pada sosok Jokowi, beliau ini ibarat tengah minum jamu godhong kates. Godhong kates itu pahit, tidak enak dimulut tapi enak buat badan. Maksudnya ialah Jokowi ini telah malang melintang , menjalani hidup dari bawah. Pernah hidup di masa-masa tersulit, beliau pernah tinggal di bantaran kali, bahkan ketika menjadi pengusaha pun pernah ditipu. Dari pengalaman inilah beliau memiliki watak seperti sekarang ini. Tentu bukan penderitaan yg membuatnya seperti saat ini, melainkan cara beliau menyikapi penderitaan tersebut. Sebuah besi akan mudah dibentuk bila dipanaskan pada suhu tinggi, namun hasilnya tergantung pada kualitas besi yg ditempa.
 Dalam buku “PETRUK DADI RATU” sendiri dijelaskan pula simbol daun kates. Daun kates itu bersegi lima yg merupakan symbol dari lima strategi kepemimpinan. Berikut 5 segi dalam buku tersebut:
1. Manembah, artinya menyembah. Seorang pemimpin harus beriman dan bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa. Ketika seorang pemimpin ingat akan Tuhannya ini, menjadikan seorang pemimpin tersebut akan menjauhi perbuatan tercela seperti korupsi. Jokowi sudah kita kenal religious. Saya pernah dengar di berita bahwa beliau sering menjadi iman di mushola sewaktu beliau bekerja di perkebunan di Aceh.
2. Marambah, artinya merambah. Mampu berada di depan, tengah, dan belakang rakyat. Seperti slogan pahlawan kita, Ki Hajar Dewantara yaitu : Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi contoh), Ing madya mbagun karsa (di tengah membangun semangat), dan Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan). Dan bagi saya bapak Jokowi sudah berada di depan, tengah, dan belakang rakyat. Blusukan sebagai gaya beliau sudah menjadi bukti bahwa beliau sudah mampu merambah kedalam masyarakat.
3. Murakabi, artinya bermanfaat. Seorang pemimpin haruslah hadirnya ini bermanfaat bagi rakyat. Rakyat benar membutuhkan telinga nya untuk mendengar anspirasi rakyat. Jokowi sadar betul bahwa kedudukan, posisi ataupun jabatan yg diperolehnya ini adalah penghargaan dari rakyat atas pretasi beliau.
4. Mapan, artinya lapang. Seorang pemimpin memiliki kelapangan dalam berpikir, bertindak, dan mengendalikan diri supaya tetap waspada. Kita bisa melihat sikap jokowi dalam melawan kampanye hitam dan kampanye negative. Beliau tidak termakan isu, namun beliau juga punya cara cerdik untuk membuat rakyat tetap percaya pada beliau.
5. Mituhu, artinya seorang pemimpin loyal pada aturan yg ada. Apalagi di Indonesia seorang pemimpin harus memiliki loyalitas pada Pancasila dan UUD 45. Untuk hal ini silahkan nilai sendiri apakah Jokowi telah memenuhi segi ke lima ini.
­­­­­­