Sabtu, 26 September 2015

Jalan Bandungan sebuah Novel


Ini novel yang menarik bagi saya. Nh. Dini melalui novel ini cukup mampu menyihir saya menyelesaikan novel ini dalam hitungan beberapa hari. Namun, perkenalan pertama saya dengan novel ini justru bukan karena cerita nya, melainkan judulnya "Jalan Bandungan". Bandungan sendiri tak asing bagi saya, disinilah saya tumbuh dan dibesarkan, mungkin karena inilah saya mampu membayangkan cerita nya secara jelas karena daerahnya yang saya kenali.


Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Penerbit Djambatan pada tahun 1989, dan cetakan kedua diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama tahun 2009. Saya memiliki buku yg diterbitkan Gramedia, toh begitu saya menemukan buku ini justru di pasar buku di jalan Pegadaian, kota Medan. Setelah muter muter di seluruh toko buku Gramedia se jabodetabek, nggak nemu. Nggak sengaja berkunjung ke medan mendapat berkahnya sendiri, nemu buku ini.

Cerita "Jalan Bandungan" mengambil tema tentang perempuan. Khususnya perempuan yang ditinggal suaminya karena terlibat. Ya, novel ini membuat kita bersinggungan kembali dengan pemberontakan PKI. Sungguh berat kehidupan Muryati, tokoh utama novel ini. Meskipun dia tidak terlibat, keterlibatan suaminya di PKI membuat dia dijauhi teman, dan keluarga nya sendiri. Mengurus ini itu di birokrasi pun dipersulit. Ditambah ketika dia harus membesarkan ketiga anaknya, si Eko, Widowati, dan Seto sendirian tanpa suaminya. Untunglah dia masih memiliki Ibu yang masih mau menerimanya, dan sahabat sahabat nya yang setia membantu ketika sedang sulit.

Novel ini dibagi menjadi 4 bagian. Bagian pertama merupakan perkenalan, sekaligus gambaran masalah yang akan dihadapi si tokoh utama. Bagian kedua, menceritakan Muryati kecil pada masa Revolusi,  pertemuan nya dengan Widodo, pria yang akan menjadi suaminya nanti sampai pada Muryati yg ditinggal pergi suaminya, sampai akhirnya dia mendapatkan beasiswa ke Belanda. Bagian kedua merupakan bagian terpanjang pada novel ini.

Bagian ketiga, berisi kisah Muryati selama berada di Belanda, pertemuan nya dengan Handoko yang kelak menjadi suami keduanya setelah ia bercerai dengan Widodo yang masih menjadi tahanan di pulau Buru. Perlu diketahui Handoko merupakan adik kandung Widodo.

Bagian keempat sekaligus bagian terakhir merupakan klimaks novel ini. Di bagian ini, menceritakan kehidupan Muryati dengan Handoko, serta masalah yg timbul setelah Widodo keluar dari tahanan. Mulai dari masalah Seto serta ketidakharmonisan rumah tangganya bersama Handoko.

Lalu, apa hubungannya dengan judul "Jalan Bandungan" dengan cerita ini? Jalan Bandungan merupakan saksi bisu keteguhan Muryati mempertahankan rumah tangga nya dengan Handoko dari siasat Widodo. Hembt, seperti sinetron ya? Jangan, salah! Banyak nilai yg bisa kita ambil dari novel ini, tentang cinta, persahabatan, keluarga, dan tentang keteguhan.

Silahkan cari novel ini dan baca, untuk lebih jelasnya.

Quote :
Ah, manusia! Selalu tergiur oleh perkataan seandainya. Seolah-olah dengan perkataan itu kita bisa membentuk dunia baru atau kehidupan lain yang dengan idaman masing-masing. "Jalan Bandungan, hal 11"

Di dunia yang digaulinya, orang menganggap kanker payudara sebagai penyakit yang sudah membiasa. Namun bagiku, penyakit apapun, jika menyentuh orang orang yang kucintai. Tidak lagi menyandang predikat "biasa. (Jalan Bandungan, hal 215)


0 komentar:

Posting Komentar

Monggo di komentari, Kasih kripik pedasnya juga nggak apa apa...