Ini adalah novel yang sebelumnya diterbitkan dalam 3 buku terpisah, yaitu Pengarang Telah Mati, Pengarang Belum Mati, dan Pengarang Tak Pernah Mati. Masih dengan gaya khas dan sontoloyo nya Pak Sapardi Djoko Darmono ini, pembaca diajak untuk berada pada hubungan yg khas antara penulis dan tokoh rekaannya. Soekram tokoh fiksi sebuah cerita, keluar dari cerita dan mencoba menggugat pengarang nya. Protesnya, kenapa tak selesai menulis, mengapa ia tak sendiri yang menentukan cerita nya, kenapa percintaan nya disusun dengan rumit?
Ini termasuk buku yang lama untuk saya selesaikan. Bukan waktu untuk membacanya yang menjadikan nya lama untuk diselesaikan. Saya sering kembali ke awal, untuk memahami ide cerita pak Sapardi di buku ini. Kebingungan saya akan Soekram, karakter yang ada padanya amat sulit ditebak. Setidaknya, saya menemukan satu karakter pada diri Soekram, dia adalah seorang pemberontak. Diluar dugaan, ketika saya mencapai di bab 2 buku trilogi ini, dengan modal penjelasan bab 1 mungkin ada di bab 2. Saya jadi ingat, pak Pardi pernah bilang "saya menulis karena saya ingin menulis, tidak ada maksud lain". Perkataan beliau menyadarkan saya, yaa "saya membaca, karena saya ingin membaca, itu dasar saya". Dan mulailah saya membaca tanpa perlu bertanya tanya, saya membaca tanpa perlu tahu mau dibawa kemana, saya membaca tanpa perlu mengerti pesan penulis nya. Dan tralala, saya akhirnya menyelesaikan buku ini, dengan kesimpulan yaa, saya tahu Pak Pardi menulis bukan untuk menyampaikan amanat, dia hanya ingin kita membaca dan bertanya tanya dan akhirnya kita sendirilah yang akan menyelesaikan ceritanya.
Pada bab 1, "Pengarang Telah Mati". Soekram bertemu dengan teman pengarang yang kabarnya telah mati, dia meminta teman pengarang yang merupakan seorang editor, menerbitkan ceritanya. Teman pengarang (editor) mencari file-file cerita Soekram yang belum selesai ditulis itu. Pada bab ini, soekram diceritakan sebagai seorang dosen yang baru saja pulang dari luar negeri. Kisah cinta nya yang membingungkan antara Ida, minuh (istrinya) dan rosa.
Cerita selanjutnya pada bab "Pengarang Belum Mati", si Editor bertemu dengan pengarang aslinya yang ternyata belum mati. Ia menggugat cerita yang sudah diterbitkan tidak sesuai dengan apa yang ia tulis. Pengarang memberikan naskah aslinya pada si Editor untuk diterbitkan lagi. Di naskah tersebut Soekram ditempatkan sebagai mahasiswa di tengah hiruk pikuk politik tahun 60an.
Bab ketiga sekaligus terakhir, "Pengarang Tak Pernah Mati", Soekram tokoh rekaan datang pada si Editor, ia tidak mau lagi jadi tokoh yang terus terusan dipermainkan oleh pengarang. Dia bersikeras untuk menulis cerita nya sendiri. Dia menempatkan diri menjadi Soekram yg datang dari Jawa ke Padang untuk mencari kaum Proletar yang dipimpin oleh Datuk Meringgih. Disini Soekram benar benar merubah cerita Siti Nurbaya. Yang akhirnya mempertemukan Soekram dengan pengarang asli Siti Nurbaya, Marah Rusli, yang marah karena Soekram, tanpa seijinnya, memutar balikan cerita yang ia buat itu.
Ada beberapa hal yang membuat saya bingung, entah apa yang dilakukan pak Pardi dalam ketiga cerita ini. Misalny munculnya kalimat kalimat dari pihak lain yang entah siapa sedang berbicara dengan Soekram. “bukit bukit pasir yang bergeser dalam hatinya” dalam cerita Pengarang Telah Mati. Hal serupa juga muncul dalam Pengarang Belum Mati “Jangan Makan Pasir Di Padang Pasir ” atau “Jangan Kunyah Pasir Itu Soekram, Jangan! ”. Ketiga kalimat ini sering muncul di cerita pertama dan kedua.
Tapi yang jelas, saya puas dengan buku ini, bintang 4 dari 5 bintang terbaik, saya alamatkan untuk “TRILOGI SOEKRAM “ ini.







0 komentar:
Posting Komentar
Monggo di komentari, Kasih kripik pedasnya juga nggak apa apa...