"Film Filosofi Kopi" sebuah review
Pertama denger cerpen karangan si Dee ini difilmkan, cukup membuat saya penasaran bakalan gimana cerita ini dibawa ke dunia film. Apalagi film ini disutradarai oleh si pembuat film "Cahaya Dari Timur : Beta Maluku" Angga Sasongko. Dan ada kabar juga si Angga ini sampai riset tentang pembuatan kopi dari mulai ditanam sampai dihindangkan di segelas cangkir.
Dan, akhirnya rasa penasaran itu terjawab juga kemarin malam minggu. Berbekal ngajakin si Florent yang juga pengen nonton nie film. Ditambah lagi dua pasukan dari Siloam si Nisya dan mbak Frida. (Gue sendiri paling cantik! Hahaha). Kita meluncur ke Lippo Karawaci.
Film berdurasi 117 minute, dibawakan dengan dibawakan dengan komedi khas dialog antara si Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto). - Si Nisya ampe ketawa tawa.
Film ini dimulai dengan adegan di suatu pagi yang ceria. Kedai Filosofi Kopi sedang ramai seperti biasa. Seorang pelayan dengan tersenyum memandang review kedai Filosofi Kopi yang ditulis, “…menghidupkan kembali Melawai.”
Lalu tampak berdiri dengan apron cokelat andalannya, rambut gondrong terikat, dan topi yang selalu ia pakai saat sedang membuat kopi. Ia dengan lihai menceritakan filosofi setiap jenis kopi pada pelanggan. Ini termasuk merayu konsumen perempuan dengan menggunakan filosofi cappucino, keindahan yang mirip kamu.
Sedangkan Jody, sejak awal sudah diplot sebagai karakter yang dinamis. Jika tak bisa dibilang pragmatis dan agak sedikit pelit (Paman Gober, julukan si Jody dari si Ben). Ia, sebagai pemilik Filosofi Kopi, harus pusing dengan hutang yang membengkak yg ditinggalkan oleh papa nya. Sedangkan Ben terus merengek untuk membeli biji kopi terbaik yang berharga mahal.
Pertentangan antara Ben dan Jody sudah ditampilkan sejak awal. Ben muncul sebagai sosok barista yang handal, peduli pada mutu biji kopi, memusuhi wifi, dinamis, flamboyan, tapi angkuh luar biasa kalau bicara soal kopi.
Sedangkan Jody lebih ke tipikal pemilik kedai yang harus memutar otak agar kedai tetap bisa berjalan dan hutang bisa dicicil. Ia, misalkan, ngotot mau memasang jaringan Wifi, meski ditentang oleh Ben. Menurut Jody, Wifi bisa mendatangkan pendapatan dua kali lipat.
Jody juga tak setuju dengan adanya jam istirahat makan siang, karena itu adalah jam ramai konsumen. Jody yang lulusan sekolah luar negeri ini juga berulang kali mengemukakan ide agar Filosofi Kopi buka selama 24 jam. Lagi-lagi, ide ini ditentang Ben yang lebih santai.
Filosofi Kopi sedang dalam masa genting karena belum bayar cicilan 3 bulan. Harga bahan baku sedang tinggi. Sedangkan konsumen banyak yang kabur karena tak ada jaringan Wifi, plus jam buka yang relatif singkat.
Saat itu lah, datang seorang pengusaha menawarkan tantangan pada Ben, buatlah kopi terbaik yg akan dihidangkan untuk seorang investor, kalau berhasil maka 100 juta rupiah akan jadi milik Ben dan Jody. Tantangan ini untuk memuluskan tender yang sedang digarap oleh si pengusaha tersebut.
Jody yang pusing memikirkan hutang, mengiyakan tantangan itu. Ben, masih berpikir. Beberapa hari kemudian, mereka berdua mendatangi si pengusaha tsb, Ben malah menantang balik: kalau Filosofi Kopi berhasil menyajikan kopi terbaik, maka hadiahnya 1 milyar rupiah.
“Kalau gagal?”
“Kami yang akan membayar anda 1 milyar,” kata Ben.
Pengusaha tsb setuju. Jody kelimpungan. Ben meminta Jody pergi ke pelelangan biji kopi dan waktu 2 minggu untuk menyiapkan kopi terbaik.
Maka dengan serius Ben menyiapkan kopi. Ia mengurung diri selama 2 minggu di ruangan, lengkap dengan aneka macam peralatan kopi. Hingga akhirnya ditemukan metode yang menghasilkan kopi terbaik, menurut Ben. Kopi itu dinamakan Ben’s Perfecto.
Semua bergembira dengan Ben’s Perfecto. Dengan segera, kopi ini menjadi buah bibir para pecinta kopi di Jakarta. Gema itu akhirnya sampai ke telinga El Deschamp (Julia Estelle), food blogger sekaligus Q-grader yang punya kualifikasi internasional.
El yang tinggal di Perancis sedang berada di Indonesia untuk menuliskan buku tentang kopi. Ia lantas mampir ke Filosofi Kopi dan mewawancarai Jody. El menanyakan tentang makna perfecto.
“Ya kesempurnaan.”
“Jadi anda berpikir perfecto ini adalah kopi paling enak di seluruh dunia?”
Maka Ben segera menyajikan Ben’s Perfecto. Disambut dengan tatapan dan perkataan dingin dari El: masih ada kopi yang lebih enak dari ini.
Jody terkejut. Ben, apalagi. Ia tak terima kopinya punya pesaing. Apalagi setelah El bercerita bahwa kopi yang lebih enak adalah Kopi Tiwus, kopi dari Ijen. Kopi dari desa dengan penyajian yang sederhana.
Lalu bagaimana akhirnya? Saya menyarankan untuk nonton film ini.
Oh iya, yang sudah baca cerpennya harus tetep nonton nie film. Penambahan beberapa kasus seperti utang kedai filosofi kopi serta masa lalu para tokoh membawa warna baru di film ini. Saya juga suka soundtrackny film ini, dari punya nya Gleen, Maliq & dEssentials, Gilbert Pohan, Sidepony, Dee Lestari sampai SVARNA band.
Dan terakhir,
"Sesempurna apapun kopi yang kamu buat, kopi tetaplah kopi, yang memiliki sisi pahit yang tidak akan mungkin bisa kamu sembunyikan." (Filosofi Kopi)









0 komentar:
Posting Komentar
Monggo di komentari, Kasih kripik pedasnya juga nggak apa apa...