Kamis, 24 Juli 2014

JOKOWI minum “GODHONG KATES

Pertama saya pribadi ucapkan selamat untuk bapak Joko Widodo dan bapak Jusuf Kalla telah terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2014 – 2019. Saya juga ucapkan selamat untuk seluruh rakyat Indonesia yg telah berpesta demokrasi dengan lancar meski ada gesekan dan gonjang-ganjing dalam proses pemilu ini.
 Judul diatas JOKOWI minum “GODHONG KATES” terinspirasi dari buku “PETRUK DADI RATU” karya Dr. Sunardi Endraswara, 2014. Pada bab pertama buku ini,”lika liku Petruk menjadi ratu”, tertulis pada sub bab “ketika Petruk makan daun kates”. Sangat relavan sekali pada sosok Jokowi. Entah kebetulan atau tidak sosok Jokowi ini memiliki prinsip yg sama pada diri Petruk, tentang makan godhong kates (daun papaya). Petruk sendiri adalah salah satu Punakawan selain Semar, Gareng, dan Bagong, dalam lakon “Petruk Dadi Ratu” sosok Petruk menjadi raja karena berkat dari kekuatan wahyu. Tidak sembarang orang bisa mendapatkan wahyu.
Kembali pada sosok Jokowi, beliau ini ibarat tengah minum jamu godhong kates. Godhong kates itu pahit, tidak enak dimulut tapi enak buat badan. Maksudnya ialah Jokowi ini telah malang melintang , menjalani hidup dari bawah. Pernah hidup di masa-masa tersulit, beliau pernah tinggal di bantaran kali, bahkan ketika menjadi pengusaha pun pernah ditipu. Dari pengalaman inilah beliau memiliki watak seperti sekarang ini. Tentu bukan penderitaan yg membuatnya seperti saat ini, melainkan cara beliau menyikapi penderitaan tersebut. Sebuah besi akan mudah dibentuk bila dipanaskan pada suhu tinggi, namun hasilnya tergantung pada kualitas besi yg ditempa.
 Dalam buku “PETRUK DADI RATU” sendiri dijelaskan pula simbol daun kates. Daun kates itu bersegi lima yg merupakan symbol dari lima strategi kepemimpinan. Berikut 5 segi dalam buku tersebut:
1. Manembah, artinya menyembah. Seorang pemimpin harus beriman dan bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa. Ketika seorang pemimpin ingat akan Tuhannya ini, menjadikan seorang pemimpin tersebut akan menjauhi perbuatan tercela seperti korupsi. Jokowi sudah kita kenal religious. Saya pernah dengar di berita bahwa beliau sering menjadi iman di mushola sewaktu beliau bekerja di perkebunan di Aceh.
2. Marambah, artinya merambah. Mampu berada di depan, tengah, dan belakang rakyat. Seperti slogan pahlawan kita, Ki Hajar Dewantara yaitu : Ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi contoh), Ing madya mbagun karsa (di tengah membangun semangat), dan Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan). Dan bagi saya bapak Jokowi sudah berada di depan, tengah, dan belakang rakyat. Blusukan sebagai gaya beliau sudah menjadi bukti bahwa beliau sudah mampu merambah kedalam masyarakat.
3. Murakabi, artinya bermanfaat. Seorang pemimpin haruslah hadirnya ini bermanfaat bagi rakyat. Rakyat benar membutuhkan telinga nya untuk mendengar anspirasi rakyat. Jokowi sadar betul bahwa kedudukan, posisi ataupun jabatan yg diperolehnya ini adalah penghargaan dari rakyat atas pretasi beliau.
4. Mapan, artinya lapang. Seorang pemimpin memiliki kelapangan dalam berpikir, bertindak, dan mengendalikan diri supaya tetap waspada. Kita bisa melihat sikap jokowi dalam melawan kampanye hitam dan kampanye negative. Beliau tidak termakan isu, namun beliau juga punya cara cerdik untuk membuat rakyat tetap percaya pada beliau.
5. Mituhu, artinya seorang pemimpin loyal pada aturan yg ada. Apalagi di Indonesia seorang pemimpin harus memiliki loyalitas pada Pancasila dan UUD 45. Untuk hal ini silahkan nilai sendiri apakah Jokowi telah memenuhi segi ke lima ini.
­­­­­­

0 komentar:

Posting Komentar

Monggo di komentari, Kasih kripik pedasnya juga nggak apa apa...